Oleh Singgih Trisulistiyono*
Pada Sabtu 7 Oktober 2023 dunia dikejutkan dengan serangan mendadak besar-besaran oleh Hamas terhadap kota-kota di Israel. Serangan militer yang dinamakan “Operasi Badai Al Aqsa” dikhabarkan telah melibatkan 5.000-an roket dan paralayang bersenjata yang menyerang bagian selatan negara Israel. Serangan pasukan Hamas ke Israel itu digambarkan telah didorong oleh ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina selama 75 tahun. Serangan kelompok bersenjata Hamas ini merupakan serangan paling mematikan sejak serangan Mesir dan Suriah dalam perang Yom Kippur 50 tahun lalu. Pada akhirnya Israel pun tidak tinggal diam.
Serangan Balasan
Sudah dapat diduga pasukan Israel segera tersadar dari keterkejutannya. Serangan balasan yang tidak kalah brutal dilakukan oleh tentara Israel yang memiliki alat pembunuh yang lebih canggih dan lengkap. Jangankan didahului serangan terhadapnya, tanpa diserang pun pemerintah Israel selalu berupaya memancing dan melakukan tindakan-tindakan kekerasan terhadap warga Palestina. Serangan milisi Hamas yang memalukan intelijen Israel ini akhirnya tampak menjadi alasan pembenar bagi Israel utuk semakin menekan dan menghancurkan serta menghilangkan negara Palestina dari peta politik dunia, atau jika masih ada peta negara Palestina tetapi wilayahnya dikuasai oleh orang-orang Israel. Jika hal itu terjadi, maka kekerasan yang lebih brutal dan berkepanjangan akan terjadi. Kebrutalan ini terkait dengan perkembangan teknologi persenjataan yang makin canggih, misalnya menggunaan bom posfor putih yang menimbulkan kematian dan kerusakan infrastruktur massal, sebab bom ini bisa menghasilkan panas udara dengan suhu sekitar 800 derajat Celsius.
Perang berkepanjangan terkait dengan keterlibatan kelompok-kelompok militan dan berbagai negara yang menyulut eskalasi perang yang makin besar. Negara-negara yang membantu Israel antara lain: Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia, Austria, Jerman, Norwegia. Sementara itu negara-negara yang mendukung Palestina antara lain: Iran, Afrika Selatan, Arab Saudi, Qatar, Rusia, RRC, Korea Utara. Palestina juga didukung oleh Hamas, Palestinian Islamic Jihad, Fatah, Hizbullah, Popular Front for the Liberation of Palestine, dan sebagainya.
Sehari setelah serangan Hamas, Israel melakukan serangan balik yang tentunya lebih ganas. Setelah hampir satu minggu, jumlah korban tewas dari kedua belah pihak akibat konflik bersenjata menembus angka sekitar 2.800 jiwa. Sekitar 1.300 orang tewas di Israel sementara itu di Gaza jumlahnya mencapai 1.537 jiwa. Jumlah korban jiwa ini, terutama di Gaza, diperkirakan akan terus meningkat sebab wilayah Gaza ini dianggap sebagai sarang kelompok milisi Hamas. Apalagi pengepungan Israel terhadap wilayah Gaza telah menyebabkan berkurangnya persediaan makanan, air, listrik, dan obat-obatan bagi warga Palestina.
Mengenal Aktor Konflik
Sangat penting untuk diketahui aktor-aktor yangterlibat konflik antara pihak Israel dan dan palestina. Hal ini sangat penting agar kita memahami persoalan sebenarnya dan bisa melangkah yang lebih baik di masa mendatang, untuk ikut ambil bagian dalam penyelesaian masalah ini. Dalam konteks ini seringkali orang gagal paham dan mispersepsi sehingga justru berdampak pada semakin rumitnya persoalan ini untuk diselesaikan. Oleh sebab itu kita perlu mendudukkan persoalan ini secara proporsional sehingga tidak memberikan dampak bagi munculnya tragedi kemusiaan yang lebih tragis, luas dan berkepanjangan. Beberapa pihak yang terlibat dalam konflik Israel-Palestina yang perlu diketahui adalah konsep mengenai Yahudi, Yudaisme, Zionisme, Israel, Palestina, Hamas.
Istilah Yahudi sebetulnya lebih mengacu kepada kelompok etnis meskipun istilah ini juga seringkali dicampur-adukkan dengan agama yaitu agama Yudaisme (pengamal Kitab Taurat). Padahal di dalam sejarahnya banyak juga orang Yahudi (yang dipercaya sebagai keturunan Nabi Ishaq) yang tidak lagi memeluk agama Yudaisme, namun berkonversi ke agama Nasrani dan Islam. sementara itu istilah Zionisme merupakan gerakan nasionalis yang muncul pada abad ke-19 untuk mendukung pembentukan tanah air bagi orang-orang Yahudi di Palestina, yaitu wilayah yang kira-kira sama dengan Tanah Israel dalam tradisi Yahudi. Pada awalnya, Zionisme muncul di Eropa Tengah dan Timur sebagai gerakan kebangkitan nasional pada akhir abad ke-19, baik sebagai reaksi terhadap gelombang antisemitisme baru maupun sebagai respons terhadap Pencerahan Yahudi. Tujuan utama Gerakan Zionisme adalah menciptakan tanah air yang diinginkan di Palestina, yang saat itu merupakan wilayah yang dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman. Gerakan ini menyerukan kepada orang-orang Yahudi untuk bermigrasi ke Palestina yang diyakini sebagai tanah nenek moyang mereka, dan menghasilkan masyarakat ekslusif murni Yahudi. Seperti diketahui bahwa orang-orang Yahudi terakhir menempati tanah Palestina pada zaman Kekaisaran Romawi. Negara yang kemudian berhasil mereka dirikan atas dukungan kolonialis Inggris diberinama Israel pada 14 Mei 1948. Perlu diketahui bahwa tidak semua orang Yahudi dan pemeluk Yudaisme menyetujui Gerakan zionisme yang menghalalkan darah ini.
Sementara itu istilah negara Palestina juga memiliki sejarah yang dinamis yang mencerminkan adanya konflik laten dan berkepanjangan antara bangsa Arab dengan bangsa Yahudi. Momen paling menentukan terjadi pada 1964 ketika para pemimpin Arab membentuk Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri dan tidak lagi menjadi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina. Pada 15 November 1988 di Ajir (Ibukota negara Aljazair) diproklamasikan berdirinya negara Palestina. Dengan berdirinya negara Palestina, konflik bersenjata terus berlangsung. Israel terus berusaha melikuidasi negara Palestina dengan berbagai cara. Negara Palestina sangat lemah jika dibandingkan dengan negara Israel yang mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat. Namun demikian kelompok-kelompok bersenjata Islam yang berjuang membela Palestina terus berlanjut dan silih berganti dari generasi ke gerenasi yang menempatkan perang melawan Israel sebagai jihad Islam. Salah satu kelompok milisi Islam yang terkuat adalah Hamas yang pada 7 Oktober 2023 melakukan serangan besar-besaran terhadap berbagai kota di Israel.
Belajar dari Tagedi Kemanusiaan
Sejarah Panjang orang Yahudi hampir selalu diwarnai dengan rentetan tragedi kemanusiaan, baik berupa perbudakan, eksploitasi, pengusiran, pembunuhan, percobaan genosida, dan sebagainya. Pengalaman sejarah yang selalu diwarnai oleh serentetan tragedi yang dialami oleh orang Yahudi pada zaman dulu itu, tampaknya telah membangkitkan dendam orang-orang Yahudi terhdap dunia di sekelilingnya. Kekerasan dan upaya genosida terhadap orang-orang Yahudi pernah dilakukan oleh para penguasa Mesir yang terkenal dengan gelar Firaun. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh penguasa Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Rusia dan Jerman. Orang-orang Arab Islam yang selama ekspansi dan penguasaan terhadap Kawasan Palestina tidak pernah melakukan kekerasan yang berarti terhadap orang-orang Yahudi. Mereka diberi kebebasan mememuk agama mereka. Bahkan tidak sedikit orang-orang Yahudi yang secara sadar masuk Islam karena melihat budi luhur Nabi Muahammad SAW dan para pimpinan muslim. Namun saya sekali dendam sejarah orang-orang Yahudi tidak dialamatkan ke Jerman atau bangsa-bangsa lain yang pernah menganiayanya, tetapi justru dilampiaskan ke orang-orang Arab di Palestina yang mayoritas pemeluk Islam.
Mengapa hal itu terjadi? Hal ini tidak bisa dilepaskan dari ambisi Zionisme Israel yang ingin menguasai seluruh wilayah yang dipercaya merupakan ‘tanah yang dijanjikan’ oleh Tuhan dalam kitab suci mereka. Wilayah itu mencakup negara Palestina (baik di Tepi Barat maupun Jalur Gaza) yang mayoritas penduduknya adalah Arab Islam. Dengan berbagai cara (teror, kekerasan, diskriminasi, agresi, pengusiran) negara Zionis Israel berusaha menguasai seluruh tanah yang dimiliki oleh orang-orang Palestina.
Pemerintah Palestina tampaknya sangat lemah jika harus berhadapan dengan negara Israel. Dalam kondisi seperti inilah kelompok milisi bersenjata Hamas dan kelompok milisi lain berusaha ‘membantu’ Palestina untuk berperang melawan Israel. Sementara itu negara Palestina sendiri tidak memiliki kemampuan cukup untuk berperang melawan Israel. Akhirnya konflik yang tak bisa dikendalikan oleh pemerintah Palestina menjadi berkepanjangan dan yang menjadi korban adalah orang-orang Palestina (baik muslim, Kristen, maupun Yudais) dan tentu saja juga warga negara Israel menjadi kurban yang tak terhindarkan.
Salah satu hal yang menyolok adalah bahwa kelompok-kelompok milisi ini mengatasnamakan jihad Islam dalam menyerang Israel. Hal inilah yang tampaknya mendominasi wacana dan perbincangan publik, bahwa konflik antara Israel dengan Palestina merupakan perang jihad antara Islam dengan Yahudi. Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan realitas meskipun faktanya Islam menjadi agama mayoritas orang Palestina. Seperti diketahui bahwa sekitar 75,4 persen penduduk Israel di antaranya adalah orang Yahudi, 20,3 persen orang Arab, dan 4,3 persen sisanya merupakan kelompok “lainnya”. Sekitar 75,5 persen penduduk Israel menganut kepercayaan Yudaisme, 16,8 persen Islam, 2,1 persen Kristen, dan sisanya merupakan kepercayaan lain termasuk atheisme. Sementara itu penduduk Palestina mayoritas memeluk agama Islam, dengan Muslim terdiri dari 80-85 persen dari populasi Tepi Barat, termasuk pemukim Israel, dan 99 persen dari populasi di Jalur Gaza. Pemeluk agaman Kristen Palestina di Tepi Barat sekitar 2 persen dari total populasi penduduk dan kurang dari 1 persen di wilayah Jalur Gaza. Selain itu sebagian penduduk di wilayah yang dikuasai oleh negara Palestina juga terdiri dari orang-orang Yahudi.
Dengan demikian maka konflik antara Israel dan Palestina sesungguhnya bukan terutama merupakan konflik agama, namun merupakan konflik politik yang bersumber dari ambisi berlebihan negara Zionis Israel untuk mencaplok seluruh wilayah Palestina dan mengeluarkan orang-orang Palestina dari negerinya. Inilah yang melahirkan serentetan tragedy kemanusian di kawasan palestina dan Israel. Andaipun penduduk Palestina bukan mayoritas muslim, kita (Indonesia) tetap harus berjuang untuk meniadakan agresi dan penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya, sesuai dengan amanah konstitusi kita untuk melawan segala bentuk penjajahan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Marilah tagedi kamanusian yang merupakan manifestasi dari kebodohan dan kejahiliyahan ini kita akhiri di manapun.
* Prof. Dr. Singgih Trisulistiyono, M.Hum adalah Ketua DPP LDII, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro
