Oleh Ludhy Cahyana*
Dalam palagan perang modern, peluru dan rudal hanyalah setengah dari pertempuran. Setengah lainnya terjadi di ruang digital, melalui narasi, video durasi pendek, dan pernyataan pers yang dirancang untuk memenangkan persepsi publik. Ketegangan yang kian memuncak antara Republik Islam Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel bukan lagi sekadar konflik kinetik, melainkan telah bertransformasi menjadi perang propaganda skala penuh di mana “kemenangan” tidak lagi diukur dari luas wilayah yang diduduki, ataupun siapa yang hancur lebur dan siapa yang menyatakan kemenangan. Kemenangan modern juga ditentukan oleh siapa yang berhasil menanamkan narasi paling meyakinkan di benak masyarakat dunia.
Media massa dan media sosial mengambil peran penting untuk memproduksi adu klaim kemenangan yang menciptakan paradoks informasi. Di satu sisi, Iran melalui media pemerintahannya sering kali menampilkan keberhasilan serangan rudal atau drone mereka sebagai pembuktian runtuhnya “kubah besi” pertahanan lawan. Di sisi lain, militer Israel (IDF) dan Pentagon secara konsisten merilis data mengenai tingkat intersepsi yang mencapai angka hampir sempurna, sembari mengecilkan dampak kerusakan di lapangan. Dalam labirin informasi ini, kebenaran sering kali menjadi korban pertama, terkubur di bawah lapisan retorika yang dirancang untuk menjaga moral domestik dan martabat internasional masing-masing pihak.
Mari membedah bagaimana adu informasi tersebut berlangsung, dan jargon yang kedua belah pihak sajikan untuk mempengaruhi persepsi masyarakat dunia, sekaligus menjatuhkan lawan. Iran membangun narasi di atas fondasi resiliensi (daya tahan) dan perlawanan terhadap imperialisme. Setiap serangan yang mereka luncurkan, seperti operasi Honest Promise, dikemas sebagai keberhasilan menembus sistem pertahanan paling canggih di dunia. Bagi Teheran, kemenangan tidak selalu berarti kehancuran total musuh, melainkan keberanian untuk menyerang jantung pertahanan lawan yang selama ini dianggap tak tersentuh. Narasi ini sangat efektif untuk konsumsi internal dan pendukung setianya di kawasan Timur Tengah, guna menunjukkan bahwa embargo puluhan tahun tidak melumpuhkan kekuatan militer mereka.
Sebaliknya, AS dan Israel menggunakan narasi superioritas teknologi dan efektivitas pertahanan berlapis. Fous utama mereka adalah menunjukkan bahwa investasi militer bernilai miliaran dolar telah berhasil menjaga keamanan warga sipil. Klaim “intersepsi 99 persen” adalah senjata propaganda utama untuk meruntuhkan kredibilitas persenjataan Iran di mata pasar senjata internasional dan aliansi regional. Namun, catatan kaki dari para analis militer independen sering kali mengingatkan bahwa biaya satu rudal pencegat sering kali jauh lebih mahal daripada satu drone “murah” milik Iran, menciptakan bentuk “kemenangan ekonomi” bagi pihak penyerang dalam jangka panjang.
Para ahli komunikasi strategis melihat bahwa fenomena saling klaim ini adalah bagian dari Deterrence Theory atau teori pencegahan. Dr. Lawrence Freedman, pakar studi perang dari King’s College London, dalam beberapa catatannya menekankan bahwa dalam perang asimetris, persepsi tentang kekuatan sering kali lebih penting daripada kekuatan itu sendiri. Jika sebuah negara berhasil meyakinkan dunia bahwa ia tidak bisa dikalahkan, maka ia telah memenangkan pertempuran tanpa harus menembakkan satu peluru pun.
Dalam konteks Iran vs Israel, propaganda berfungsi sebagai alat untuk mencegah eskalasi yang lebih luas yang dapat merugikan kedua belah pihak. Dengan mengklaim kemenangan, masing-masing pihak merasa “tugasnya telah selesai” dan memiliki alasan untuk tidak melanjutkan serangan balasan yang lebih destruktif. Ini adalah bentuk diplomasi melalui media massa; sebuah pesan yang dikirimkan kepada lawan bahwa “kami memiliki kemampuan untuk melukai Anda, jadi berpikirlah dua kali.”
Peran Media Sosial dan “Open Source Intelligence” (OSINT)
Salah satu elemen pembeda dalam perang propaganda abad ke-21 adalah kehadiran komunitas Open Source Intelligence (OSINT) dan media sosial. Video amatir dari warga di lapangan sering kali membantah klaim resmi pemerintah dalam hitungan menit. Namun, ini juga menjadi tantangan baru. Teheran dan Tel Aviv kini memiliki “pasukan siber” yang bertugas membanjiri ruang digital dengan konten yang telah disunting, atau bahkan menggunakan teknologi Deepfake untuk memperkuat klaim mereka.
Sebagai catatan kaki penting bagi para komunikan atau penerima informasi, ketergantungan pada satu sumber informasi di era ini sangatlah berbahaya. Laporan dari Reuters atau Associated Press sering kali memberikan gambaran yang lebih berimbang, namun tetap sulit untuk memverifikasi kerusakan di situs-situs militer yang sangat rahasia. Perang propaganda ini pada akhirnya menciptakan fenomena “kebenaran subjektif”, di mana publik hanya akan mempercayai narasi yang sesuai dengan keberpihakan ideologis mereka.
Di era digital, medan tempur tidak lagi terbatas pada ruang fisik, melainkan meluas hingga ke genggaman setiap individu yang memegang ponsel pintar. Media sosial telah bertransformasi dari sekadar platform jejaring menjadi garis depan perang asimetris, di mana narasi dan persepsi menjadi komoditas strategis yang diperebutkan. Dalam konflik antara Iran dan poros AS-Israel, media sosial berfungsi sebagai akselerator sekaligus distorsi realitas, sementara kehadiran OSINT muncul sebagai kekuatan penyeimbang baru yang menantang monopoli kebenaran versi negara.
Media sosial memungkinkan penyebaran klaim kemenangan secara instan dan masif. Iran, misalnya, secara taktis menggunakan platform seperti X (dahulu Twitter) dan Telegram untuk menyebarkan rekaman peluncuran rudal dalam format sinematik guna membangun citra kekuatan militer yang tak terhentikan. Di sisi lain, militer Israel (IDF) memanfaatkan visualisasi infografis dan video intersepsi sistem pertahanan udara dengan tempo cepat untuk menciptakan rasa aman bagi warga sipil dan menunjukkan supremasi teknologi mereka. Dalam teater persepsi ini, algoritma media sosial sering kali menciptakan “ruang gema” (echo chambers) yang memperkuat bias konfirmasi; pendukung masing-masing pihak hanya akan terpapar pada narasi yang mendukung kemenangan pihak mereka, sehingga kebenaran faktual menjadi semakin kabur.
Di tengah kabut propaganda tersebut, komunitas OSINT berperan sebagai “hakim digital” yang melakukan verifikasi independen. Menggunakan data satelit komersial, pelacakan penerbangan (flight tracking), hingga analisis geospasial terhadap video amatir yang diunggah warga, para analis OSINT mampu membedah klaim resmi pemerintah dalam hitungan jam. Sebagai contoh, ketika sebuah negara mengklaim intersepsi 100 persen, analis OSINT dapat menunjukkan foto satelit yang memperlihatkan adanya kawah dampak di situs militer tertentu. Sebaliknya, ketika sebuah pihak mengklaim serangan besar-besaran, data OSINT dapat membuktikan bahwa kerusakan yang terjadi hanyalah minimal.
Namun, peran OSINT dan media sosial juga membawa risiko besar. Negara-negara yang berkonflik kini mulai beradaptasi dengan melakukan “pencemaran informasi” melalui pasukan siber. Mereka sengaja menyebarkan video lama dari konflik yang berbeda atau menggunakan teknologi Deepfake untuk menyesatkan para analis independen. Hal ini menciptakan fenomena di mana intelijen publik justru menjadi alat baru bagi propaganda negara.
Bagi masyarakat global, fenomena ini menuntut literasi digital yang tinggi. OSINT memberikan kekuatan bagi publik untuk tidak sekadar menelan mentah-mentah siaran pers militer, namun media sosial tetap menjadi medan yang sangat rentan terhadap manipulasi emosional. Keberadaan informasi terbuka ini pada akhirnya memaksa negara untuk lebih transparan, karena kebohongan publik kini lebih mudah terdeteksi oleh “mata digital” masyarakat dunia yang tak pernah tidur. Kedaulatan informasi kini bukan lagi milik pemegang otoritas, melainkan milik mereka yang mampu melakukan verifikasi secara kritis di tengah badai klaim kemenangan yang tak berkesudahan.
Kemandirian sebagai Modal Propaganda
Keberhasilan Iran dalam membangun industri militer domestik di tengah sanksi menjadi bahan bakar utama mesin propaganda mereka. Sebagaimana yang dibahas dalam diskusi mengenai resiliensi Iran, produk-produk seperti drone Shahed bukan hanya alat tempur, melainkan simbol kedaulatan. Klaim kemenangan Iran sering kali dibarengi dengan pesan: “Kami melakukan ini sendirian, tanpa bantuan asing.” Pesan ini sangat kuat untuk menantang narasi AS-Israel yang sangat bergantung pada koordinasi aliansi multi-negara.
Di sisi lain, AS-Israel menekankan bahwa kekuatan mereka terletak pada “Kemitraan Global”. Kemenangan bagi mereka adalah keberhasilan menggalang dukungan internasional untuk mengisolasi Iran. Oleh karena itu, klaim kemenangan mereka selalu menyertakan pengakuan atas kerja sama dengan Inggris, Prancis, atau negara-negara Arab moderat. Ini adalah perang antara narasi “Kemandirian Tunggal” melawan “Kekuatan Aliansi”.
Siapa Pemenang Sebenarnya?
Pada akhirnya, dalam perang propaganda antara Iran melawan poros AS-Israel, pemenangnya bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki data paling akurat, melainkan siapa yang narasinya paling bertahan lama dalam ingatan publik global. Kemenangan kinetik mungkin bisa dihitung dari jumlah target yang hancur, namun kemenangan psikologis diukur dari stabilitas politik domestik dan daya tawar di meja diplomasi.
Bagi Indonesia, penting untuk tetap kritis dan menerapkan prinsip tabayyun (verifikasi) di tengah badai klaim ini. Sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, kita harus mampu melihat melampaui kabut propaganda untuk memahami kepentingan strategis di balik setiap klaim. Perang ini mengingatkan kita bahwa kedaulatan di era modern tidak hanya dijaga dengan senapan, tetapi juga dengan kecerdasan dalam mengelola informasi dan membangun narasi kemandirian bangsa yang kokoh.
*) Ludhy Cahyana, mahasiswa program doktoral Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, dan peneliti pada Singgih Januratmoko Center

