Terjebak Ilusi Uang: Merasa Kaya, Padahal Sekadar Bertahan

Oleh Ardito Bhinadi*

Pernahkah Anda merasa “naik kelas” saat menerima kenaikan gaji? Tiba-tiba, makan di restoran mewah terasa wajar, belanja online lebih sering, bahkan cicilan baru pun dianggap bisa ditanggung. Namun tanpa disadari, di akhir bulan, dompet tetap menipis seperti biasa. Di sinilah jebakan money illusion bekerja. Money illusion (ilusi uang) adalah kesalahan persepsi ketika seseorang menganggap bahwa uang lebih banyak otomatis berarti lebih kaya, tanpa memperhitungkan inflasi atau kenaikan harga barang. Gaji memang bertambah, tetapi jika harga kebutuhan pokok juga naik, daya beli riil kita sebenarnya bisa saja tetap—atau bahkan menurun.

Ambil contoh: gaji Anda naik dari Rp5 juta menjadi Rp6 juta. Sekilas terlihat menggembirakan. Namun, jika harga beras, transportasi, dan listrik juga naik, maka tambahan itu hanya sekadar menutupi kenaikan biaya hidup, bukan menambah kemakmuran. Sayangnya, banyak orang justru menaikkan gaya hidup: lebih sering jajan, lebih mahal gadget, lebih sering nongkrong. Akibatnya? Gaji habis sebelum akhir bulan, tabungan tak sempat tumbuh, dan utang konsumtif pun diam-diam menjerat.

Gaya hidup yang meningkat tanpa perhitungan inilah yang disebut lifestyle inflation. Gaji naik, pengeluaran pun ikut melambung. Ujung-ujungnya, gaji habis sebelum akhir bulan, tabungan minim, utang menumpuk, dan investasi hanya sebatas wacana. Inilah gambaran keuangan yang tidak sehat, namun sayangnya umum terjadi.

Islam datang menawarkan solusi yang sangat relevan. Melalui prinsip-prinsip ekonomi syariah, umat diajak untuk berhati-hati dalam mengelola harta, menghindari pemborosan, dan hidup dengan penuh keseimbangan. Nilai kesederhanaan bukan berarti anti-kemajuan, melainkan cara agar hidup tak dikuasai oleh keinginan duniawi semata. Islam juga mengajarkan pentingnya zakat dan sedekah sebagai bentuk penyucian harta dan penguatan solidaritas sosial.

Islam sangat menganjurkan pencatatan keuangan yang rapi dan perencanaan pengeluaran agar terhindar dari gaya hidup konsumtif. Investasi pun dianjurkan, selama pada instrumen yang halal seperti sukuk, reksadana syariah, atau bisnis yang sesuai dengan prinsip Islam. Dengan menanamkan nilai qana’ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak silau dengan dunia), umat, termasuk generasi milenial, bisa hidup lebih tenang, berkah, dan bermakna.

Sayangnya, generasi milenial justru termasuk yang paling rentan terjebak dalam ilusi uang ini. Ada tiga faktor utamanya. Pertama, dorongan untuk tampil sempurna di media sosial. Foto liburan, barang bermerek, dan gaya hidup serba mewah menjadi “panggung” eksistensi, meskipun kondisi keuangan belum mendukung. Kedua, kemudahan akses kredit konsumtif. Fitur cicilan, paylater, pinjaman online, dan kartu kredit seolah menawarkan jalan pintas untuk memenuhi gaya hidup—tanpa harus punya dana. Ketiga, masih rendahnya literasi keuangan. Banyak yang belum paham bahwa nominal uang tidak sama dengan nilai riilnya, dan pentingnya mengelola keuangan dengan bijak.

Islam sebagai agama yang menyeluruh mengajarkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola harta, serta mengedepankan nilai kesederhanaan dan tanggung jawab. Di dalam Islam, harta sebagai amanah.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ. الأنفال: 28

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Di dalam Islam juga terdapat larangan israf (berlebihan).

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. الإسراء: 26

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

Solusi Syariah untuk Terlepas dari Ilusi Uang

Menghindari jebakan ilusi uang bukan hanya soal hitung-hitungan keuangan, tapi juga soal perubahan cara pandang terhadap harta. Islam hadir dengan prinsip ekonomi syariah yang kaya solusi praktis, terutama bagi generasi milenial. Salah satunya adalah membiasakan diri berzakat dan bersedekah. Selain menjadi bentuk ketaatan, amalan ini melatih kepekaan sosial dan menjauhkan hati dari sifat cinta dunia yang berlebihan. Zakat juga berfungsi menjaga keseimbangan harta agar tidak menumpuk di kalangan tertentu, melainkan mengalir memberi manfaat bagi sesama.

Langkah berikutnya adalah mencatat pengeluaran dan membuat rencana keuangan yang terstruktur. Islam bahkan secara eksplisit menganjurkan pencatatan transaksi dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 282), yang menegaskan pentingnya transparansi dan tanggung jawab dalam mengelola harta. Milenial bisa mulai dengan menyusun anggaran bulanan berdasarkan skala prioritas: kebutuhan pokok, tabungan, sedekah, dan alokasi investasi. Untuk investasi sendiri, Islam mendorong pilihan yang halal dan amanah, seperti sukuk, reksadana syariah, atau usaha dagang yang jujur. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik usaha adalah usaha seorang pedagang yang jujur dan amanah” (HR. Al-Hakim).

Tak kalah penting, milenial perlu membekali diri dengan literasi keuangan syariah agar memahami mana yang halal dan mana yang haram dalam urusan harta. Prinsip keadilan dan keberkahan harus menjadi pondasi dalam setiap keputusan finansial. Dan yang tak boleh dilupakan, tanamkan nilai qana’ah (merasa cukup) serta zuhud (tidak bergantung pada dunia), agar tak mudah tergoda oleh gaya hidup palsu yang kerap dibangun dari ilusi. Rasulullah SAW adalah teladan sempurna: meski memiliki otoritas besar, beliau tetap hidup dalam kesederhanaan. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi kompas agar milenial tetap stabil secara finansial sekaligus meraih berkah dalam hidup.

Saatnya generasi milenial berani melawan jebakan ilusi uang yang sering kali menghantui. Jadikan harta sebagai alat untuk mencapai tujuan mulia, bukan sekadar simbol status atau kebanggaan semu. Sederhana dan bijak bukan berarti kehilangan mimpi; justru, itulah kunci untuk hidup yang lebih bermakna, penuh keberkahan, dan jauh dari beban finansial. Mari mulai dengan langkah kecil namun berarti, mencatat pengeluaran, berinvestasi yang halal, dan memupuk rasa cukup. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati tak pernah terletak pada jumlah harta, melainkan pada cara kita memaknainya.

*) Dr. Ardito Bhinadi, M.Si., adalah Director at Pusat Studi Ekonomi, Keuangan dan Industri Digital · Pengalaman: UPN “Veteran” Yogyakarta, SEGO Consulting